Sari Wulandari Mengangkat Derajat Keset

Menghayati perannya sebagai pendidik, perempuan ini merasa terpanggil untuk mengembangkan ilmu yang dimilikinya tak sebatas bagi anak didiknya di kampus, tapi juga bagi masyarakat yang tak berkesempatan menempuh pendidikan formal. Cantik dan energik. Itulah yang tergambar pada sosok bertubuh mungil, Sari Wulandari atau Iwul.

Baca juga : outdoor furniture

Dosen yang juga Ketua Program Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Bina Nusantara inilah yang berada di balik suksesnya keset merek Kibee. Keset bermotif yang terbuat dari limbah kain atau perca ini sering diserbu pengunjung berbagai pameran, termasuk Inacraft. Di jejaring sosial, keset Kibee juga menuai banyak pujian. Iwul diajak oleh PNM (Permodalan Nasional Madani) karena dinilai kreatif dan mampu membina ibu-ibu di Koperasi Wanita Melati, di Desa Wonoyoso, Ungaran.

PNM adalah lembaga yang tujuannya mencari usaha kecil untuk dibina. Di desa ini terdapat banyak industri garmen pakaian untuk dikirim ke Korea. Garmengarmen ini menyisakan limbah kain atau perca berkarung-karung setiap hari. Oleh salah satu warganya, yaitu Anna Sulitstyarini, perca ini diolah bersama dengan para ibu-ibu menjadi keset. “Kualitas jahit sudah bagus tetapi tanpa pola, tanpa desain, bahkan cenderung seadanya sesuai ketersediaan perca,” tutur Iwul yang lulusan Trisakti Jurusan Desain Grafis.

Iwul melihat bahwa keset produksi koperasi ini masih memiliki potensi untuk dikembangkan dengan cara didesain dengan pola motif. Pelatihan tentang padu padan warna, warna senada, dan warna kontras pun diberikan oleh Iwul kepada anggota koperasi. “Saya anjurkan para perajin untuk tidak mencampurkan banyak warna dan corak,” jelas penyuka bacaan ini. Iwul juga mengajak mahasiswa DKV bimbingannya untuk membuatkan desain keset berbentuk bulat dengan diameter 10-60cm.

Pemahaman Pola Desain

Awalnya, tentu saja para perajin itu kesulitan karena biasanya mereka langsung menjahit perca yang tersedia tanpa memikirkan motif, warna, dan komposisinya. Lipatan yang disebut “lipatan ros” karena menyerupai kelopak mawar juga lebih sulit dibanding lipatan lancip dan segi tiga yang biasa mereka kerjakan. Sungguh menggembirakan, setelah itu pesanan mengalir dari berbagai kota.