Sang Seniman Properti Bagian 2

Kapan memutuskan untuk membuat Indonesia Property Watch (IPW)?

Pada suatu hari, seorang wartawan kenalan bertanya pada saya, “Bang Ali, kenapa sih enggak buat perusahaan sendiri saja?” Saya tertarik dengan ide itu karena pada dasarnya saya bukan tipe yang bisa bekerja jika terlalu terikat rules. Atau yang dibilang orang, seniman. Akhirnya pada tahun 2006, saya membuka Indonesia Property Watch (IPW) hanya dengan 2 orang karyawan.

Tantangannya adalah bagaimana mengatur waktu sendiri, mendisiplinkan diri, dan bersaing dengan perusahaan konsultan properti di Indonesia yang kebanyakan perusahaan asing. Cara yang saya lakukan adalah menguatkan hubungan ke media, membuat majalah properti, dan menulis buku, yaitu Hati-hati Perangkap Pasar Properti (2005) dan Property Mind Game (2007).

Bagaimana Anda menjaga kredibilitas IPW?

Menjadi idealis dan profesional bukan hal yang mudah. Saya tidak mau diatur dan dipaksa memberikan laporan bohong, walaupun akibatnya dimusuhi. Di sinilah kredibilitas IPW diuji untuk menjaga track record dan nama baik. Saya tidak bisa mempertaruhkan integritas, meski hal ini susah dilakukan di Indonesia karena budaya sogok adalah hal yang umum.

Saya yakin, pasti ada tempat bagi orang yang mempertahankan idealisme dan kejujuran karena pada waktunya kedua hal itulah yang menentukan integritas kita. Sejauh ini IPW selalu memberikan prediksi properti yang akurat karena selalu dilakukan diskusi multidisiplin yang dirangkum untuk mendapatkan benang merah dari segala aspek. Tidak bisa 100% tepat, yang penting tahu ke mana arah prediksi itu.

Seperti apa wajah properti Indonesia dalam mata Anda?

Usia dunia properti di luar negeri sudah ratusan tahun, sedangkan di Indonesia baru dimulai sejak tahun 1980-an. Bisa dibilang, properti Indonesia saat ini masih seperti bayi. Masih sangat banyak yang bisa dikembangkan. Pasar properti Indonesia sendiri masih belum terbentuk sempurna. Masih berkiblat ke pasar menengah-atas karena pemerintah belum bisa memproteksi konsumen menengah-bawah.

Kondisi pasar properti di sini masih autopilot dan sangat terpengaruh pasar. Indonesia belum memiliki zonasi harga, sehingga harga dinaikkan terus oleh swasta. Solusinya adalah public housing dan land bank milik pemerintah yang harganya tidak terpengaruh mekanisme pasar, seperti di Singapura. Sebagai konsultan dan pengamat properti, saya berusaha ambil bagian dalam pembangunan dengan cara melakukan kritik pada pemerintah, menyumbang pikiran yang membangun.

Cita-cita apa yang masih ingin diraih seorang Ali Tranghanda?

Saya ingin menjadi konsultan properti yang bisa bersaing dengan konsultan asing di tengah masyarakat Indonesia yang sampai saat ini masih “bule”-minded, jangka panjangnya bisa diakui secara internasional. Caranya, dengan bekerja jujur sesuai kemampuan, tahu batasan diri dan tidak menipu, dan selalu menjaga kejujuran dan idealisme diri. Meski sulit, menurut saya selalu ada tempat untuk orang jujur di dunia ini.

Setiap property yang dibangun seperti hotel dan apartement tentunya dilengkapi dengan sebuah genset yang mampu untuk memenuhi semua kebutuhan listrik. Harga genset untuk hotel dan apartemen yang murah bisa didapatkan di Distributor resmi genset silent 2000 Kva di Jakarta. Salah satu distributor resmi genset yang ada di Jakarta adalah PT. Rajawali Indo. Karena dengan mesin yang original dan bergaransi serta harga yang masih mendapatkan diskon dan bisa dinegosiasikan.