Preeklamsia Istilah Awam Bumil yang Biasa Terjadi

Umumnya, keracunan kehamilan atau preeklamsia terjadi pada umur kehamilan 20 minggu. Penyakit ini disebut juga disease of theory lantaran penyebabnya yang belum diketahui. Tanpa bermaksud menakuti, preeklamsia merupakan satu di antara tiga penyebab utama kematian dan penyakit pada bayi dan Mama hamil di seluruh dunia, disamping perdarahan dan infeksi. Di Indonesia diperkirakan kejadian preeklamsia sekitar 6—12%. Di dunia, kejadian preeklamsia diperkirakan sekitar 7—12% pada Mama baru pertama kali hamil (primigravida) dan sekitar 5—8% pada Mama yang sudah pernah/ beberapa kali hamil (multigravida). Namun, Mama tak perlu khawatir. Tiada masalah tanpa solusi, bukan? Bahkan, penyakit ini juga dapat dihindari. Untuk itu, yuk, Mam, pahami seluk-beluk preeklamsia agar bisa mengantisipasinya sejak dini.

FAKTOR RISIKO

Meski penyebabnya belum diketahui, kita dapat mengenalinyadengan melihat faktor risiko yang dapat memicu terjadinya preeklamsia, yaitu: 

• Hamil pada usia terlalu muda (kurang dari 18 tahun) atau justru di usia terlalu tua (di atas 35 tahun).

• Mama pernah mengalami preeklamsia sebelumnya.

• Mama atau saudara perempuan memiliki riwayat mengalami preekamsia.

• Memiliki riwayat hipertensi atau tekanan darah tinggi.

• Adanya penyakit atau kelainan ginjal.

• Mengalami obesitas.

• Mengalami diabetes gestasional, diabetes mellitus tipe 1.

• Mengalami gizi buruk.

• Kehamilan ganda/kembar.

• Mengalami infeksi saluran kencing.

• Jarak kehamilan kurang dari 2 tahun atau di atas 10 tahun.

DETEKSI GEJALA

Preeklamsia dapat ringan dan berat disertai gejalanya masing-masing.

1. Gejala preeklamsia ringan:

* Melonjaknya tekanan darah, padahal sebelumnya tidak punya riwayat hipertensi. Tekanan darah sistolik sekitar 140—160 mmHg, sementara tekanan darah diastolik mencapai 90—110 mmHg. Atau, kenaikan sistolik 30 mmHg dan kenaikan diastolik 15 mmHg.

* Hasil cek urine menunjukkan adanya proteinuria (protein dalam air seni) mencapai lebih dari 300 mg per 24 jam jumlah urine.

* Adanya pembengkakan, baik pada wajah (seperti sembap) maupun jari tangan dan pergelangan kaki.

* Berat badan (BB) Mama bertambah drastis dan mendadak, tapi pertambahan ini bukan disebabkan nafsu makan yang meningkat. Kenaikan BB mencapai 1 kg atau lebih per minggu selama beberapa kali.

2. Gejala preeklamsia berat:

* Tekanan darah sistolik mencapai 160 mmHg atau lebih dan atau diastolik mencapai 110 mmHg atau lebih, diukur dua kali dengan waktu sekurang-kurangnya 6 jam dan pasien dalam keadaan istirahat rebah.

* Proteinuria 5 gram atau lebih banyak dalam waktu 24 jam.

* Produksi urine (oliguri) sangat sedikit, mencapai 400 cc atau kurang dalam waktu sehari atau 4 jam.

* Mengalami gangguan selebral atau gangguan penglihatan. Pandangan kabur dan berbayang.

* Nyeri perut bagian atas, biasanya di bawah rusuk bagian kanan disertai mual.

* Mengalami gangguan fungsi hati, terasa sakit di ulu hati.

* Pertumbuhan janin terhambat.

KENALI RISIKO

Preeklamsia dapat menimbulkan risiko komplikasi berupa:

1. Aliran darah menuju plasenta berkurang. Plasenta tak mendapat cukup darah karena terjadi kenaikan tekanan darah yang menyebabkan pembuluh darah mengecil. Akibatnya, janin kekurangan oksigen dan nutrisi, sehingga menyebabkan pertumbuhan janin melambat, bayi lahir prematur atau bayi lahir dengan berat kurang atau rendah.

2. Plasenta lepas. Kondisi preeklamsia meningkatkan risiko plasenta lepas dari dinding rahim sebelum bayi lahir (solusio plasenta). Akibatnya, terjadi perdarahan yang mengancam bayi maupun mamanya.

3. Mengalami sindrom HELLP. HELPP adalah singkatan dari Hemolysis (perusakan sel darah merah), Elevated Liver enzyme (kadar enzim dalam hati meningkat), dan Low Platelet Count (rendahnya jumlah sel darah dalam keseluruhan darah). Gejalanya berupa pening dan muntah, sakit kepala, serta nyeri perut atas.

4. Eklamsia. Jika preeklamsia tidak terkontrol atau tak tertangani, akan terjadi eklamsia. Eklamsia dapat menyebabkan Mama mengalami kejang-kejang, pingsan atau koma, serta risiko kerusakan otak. Risiko lainnya, kerusakan permanen organ tubuh Mama, seperti otak, hati, atau ginjal. Juga, komplikasi gagal jantung serta gangguan fungsi paru. Bahkan, berisiko pada kematian janin maupun Mama saat sebelum persalinan, saat proses melahirkan, atau sesudah persalinan.

PENANGANAN & PENCEGAHAN

Ada beberapa upaya yang dilakukan sebagai tindak penanganan, yaitu:

* Preeklamsia ringan. Ttidak selalu memerlukan obat tapi hanya pemeriksaan rutin kehamilan.

* Preeklamsia berat. Dokter menyarankan Mama beristirahat total di tempat tidur, serta menjalani perawatan di rumah sakit. Dilakukan pula pemberian obat antikejang MgSO4 sebagai pencegahan dan terapi kejang.

* Preeklamsia berat dan sindrom HELLP. Kostikosteroid dapat diberikan untuk memperbaiki fungsi hati, sel darah, serta membantu paru-paru janin lebih matang bila memang harus dilahirkan prematur.

* Preeklamsia yang terjadi di minggu akhir kehamilan. Dokter akan mengambil tindakan untuk segera mengeluarkan/melahirkan bayi.

* Preeklamsia yang terjadi awal kehamilan. Dokter akan berusaha memperpanjang masa kehamilan sampai janin dinilai telah cukup kuat untuk lahir.

* Preeklamsia yang sudah mendekati tanggal perkiraan kelahiran. Dokter menyarankan agar bayi dilahirkan sesegera mungkin. Dokter dapat merekomendasikan pemakaian obat penurun tekanan darah bila tekanan darah di atas 180/110.

* Bila janin sudah matang. Dokter akan mempertimbangkan untuk janin dilahirkan, terlebih bila preeklamsia dalam taraf membahayakan Mama maupun janin.

* Pencegahan:

– Mama hamil disarankan tetap relaks namun waspada terhadap “tandatanda” adanya masalah.

– Lakukan pemeriksaan rutin pada dokter kandungan agar perkembangan berat badan, urine, serta tekanan darah Mama hamil dapat terpantau baik.

– Jika mengalami preeklamsia, segera ke rumah sakit agar mendapatkan perawatan lebih lanjut.

– Tak kalah penting, Mama hamil agar menjalani pola makan yang sehat dengan menu seimbang mengingat obesitas merupakan salah satu faktor pencetus preeklamsia. Idealnya, pola maka yang sehat dengan menu seimbang dan menjaga berat tubuh sejak sebelum hamil atau ketika merencanakan kehamilan, sehingga mengurangi risiko terkena preeklamsia.