Mitos dan Fakta Anak Laki-laki dan Perempuan

Mitos dan Fakta Anak Laki-laki

• Bayi laki-laki tidur lebih nyenyak. Tak ada hubungannya dengan jenis kelamin. Nyenyaktidaknya tidur bayi dipengaruhi oleh banyak faktor, terutama kesehatan si bayi. Kala sakit, tentu tidurnya mudah terusik, baik oleh suara maupun sebab lainnya. Ia pun akan sering terbangun karena rasa sakit yang dideritanya, sehingga membuatnya rewel.

• Bayi laki-laki lebih banyak menyusu ASI. Bukan jenis kelamin yang memengaruhi banyaksedikitnya bayi mengonsumsi ASI, melainkan berat badan (BB) karena BB akan memengaruhi volume lambung. Jika BBnya besar, otomatis volume lambungnya pun besar sehingga kemampuan mengonsumsi ASI ikut besar. Sebaliknya jika BB rendah, tentu kemampuan menyusunya akan rendah, karena volume lambungnya juga enggak besar. Selain itu, jika bayi sakit, tentu akan memengaruhi keinginannya menyusu. Bukankah kita pun akan kehilangan selera makan kala sakit?

• Anak laki-laki lebih sulit disapih. Enggak juga, kok! Faktor kedekatan ibu-anaklah yang jadi penyebabnya. Semakin dekat Mama dengan si buah hati, apa pun jenis kelaminnya, maka semakin susahlah si anak disapih. Butuh kesiapan mental ibu-anak untuk “berpisah”.

• Tulisan anak laki-laki lebih jelek. Siapa bilang? Banyak juga kok, anak lelaki yang tulisannya bagus, bahkan lebih bagus dibanding anak perempuan. Jadi, baik anak lelaki maupun perempuan, bisa saja memiliki tulisan yang jelek ataupun bagus. Hal ini bergantung pada kemampuan motorik halus anak. Jika anak sering dilatih melakukan aktivitas yang berkaitan dengan motorik halus, seperti: meronce atau mengunting dan menempel, maka gerakan-gerakan halusnya akan terlatih sehingga akhirnya bisa menulis halus.

• Anak laki-laki lebih aktif. Otak laki-laki memproduksi lebih banyak testosteron (hormon laki-laki), yakni hormon yang meningkatkan agresi. Maka itu, anak laki-laki cenderung lebih aktif, lebih cepat mengambil tindakan untuk memecahkan masalah, serta lebih menyukai kegiatan olahraga dan permainan yang dinamis, seperti: permainan balok dan bongkar pasang. Bagaimana dengan anak perempuan? Penelitian yang dilakukan pada orang dewasa membuktikan, kandungan serotonin pada otak perempuan lebih banyak dibandingkan lakilaki sehingga perempuan lebih bisa bersikap tenang.

• Anak laki-laki tidak ekspresif. Antropolog sosial, Jennifer James, dalam studinya melaporkan, laki-laki bisa memerlukan waktu tujuh jam lebih lama dari perempuan untuk mengolah data emosi yang sulit. Ini karena otak dan hormon laki-laki membuatnya cenderung mengolah perasaan dan emosi dengan cara sangat laki-laki. Salah satunya, reaksi tertunda yang ditekan. Otak laki-laki adalah otak pemecah masalah sehingga otak itu menunda reaksi emosional untuk memecahkan masalah emosional. Selain itu, belahan otak laki-laki terhubung dengan sekelompok serat (corpus callosum) yang lebih kecil dibandingkan perempuan, sehingga membuatnya lebih sulit mengekspresikan perasaannya ketimbang perempuan.

• Kemampuan spasial laki-laki lebih kuat dibanding perempuan. Kemampuan spasial adalah kemampuan untuk menggambarkan bentuk dari berbagai benda, bagaimana dimensi, koordinat, proporsi, pergerakan dan tekstur ­ sik dari benda, di pikiran/otak. Hal ini terkait dengan kemampuan untuk mengimajinasikan benda yang berotasi dalam ruang, bergerak dalam halang rintang, dan melihat benda dalam perspektif tiga dimensi. Dalam kehidupan sehari-hari orang yang kemampuan spasialnya baik, bisa terdeteksi dari kemampuannya membaca peta. Nah, anak lelaki ternyata memang lebih unggul kemampuan spasialnya dibanding anak perempuan. Ini karena ukuran lobus parietal (bagian otak yang letaknya di pelipis bawah) anak laki-laki lebih besar sekitar 6% daripada anak perempuan. Bagian otak tersebutlah yang mengatur persepsi, sehingga anak laki-laki jadi lebih mudah membayangkan suatu benda ataupun membaca peta ketimbang anak perempuan.

Mitos dan Fakta Anak Perempuan

• Bayi perempuan lebih cengeng. Semua bayi, baik perempuan maupun laki-laki, pasti cengeng alias doyan nangis. Soalnya, menangis adalah cara bayi berkomunikasi dengan lingkungan terdekatnya untuk menyampaikan kebutuhan-kebutuhannya, seperti: rasa lapar, haus, ada yang tidak nyaman di tubuhnya (sakit, basah, panas), dan lain-lain. Jadi, enggak ada kaitannya dengan jenis kelamin ya, Mam.

• Anak perempuan cenderung feminin. Ya, secara alamiah memang begitu. Ini karena perempuan memiliki lebih banyak hormon estrogen. Hormon inilah yang memengaruhi sifat dan karakteristik, juga kondisi biologis dan emosional perempuan. Di sisi lain, anak perempuan akan beridenti­ kasi dengan mamanya, menjadikan mamanya sebagai tokoh/model untuk ditiru. Jadilah si princess ini “hadir” sebagai sosok yang lebih lembut, lebih halus perasaannya, dan lebih pasif.

• Anak perempuan suka mengadu. Ini merupakan bentuk agresivitas si princess. Jika anak laki-laki menyalurkan agresivitasnya lebih ke aksi ­ sik (berkelahi), maka agresivitas anak perempuan lebih mengarah pada tindakan verbal, seperti: mengadu, menyebarkan ­ tnah, dan menghasut. Hal ini dipengaruhi oleh kemampuan bahasa pada anak perempuan yang berkembang lebih pesat ketimbang anak laki-laki.

• Anak perempuan lebih cepat bicara. Berdasarkan penelitian diketahui, secara genetik, pertumbuhan dan perkembangan otak anak perempuan lebih cepat dibandingkan otak anak laki-laki. Sebaliknya, bobot dan volume otak anak lakilaki lebih besar sekitar 10—15% dibanding anak perempuan seusianya. Selain itu, perkembangan otak kanan mengalami pengecilan dengan sendirinya (retraksi). Namun, peristiwa normal ini lebih besar dan lebih cepat terjadi pada anak lelaki sehingga fungsi bentuk otak kiri anak perempuan lebih besar pada masa batita. Hal ini membuat anak perempuan lebih cepat berbicara ketimbang anak laki-laki. Umumnya, perkembangan bahasa anak perempuan lebih cepat atau maju 2 tahun dibandingkan anak lelaki.

• Anak perempuan lebih peka dan penyayang. Ini karena perempuan memproduksi oksitoksin dan serotin lebih banyak. Oksitosin adalah hormon yang menyebabkan keterikatan pada manusia, sementara serotin adalah hormon pemberi rasa nyaman. Hormon-hormon ini membuat anak perempuan lebih peka dan lebih penyayang. Saat bayi, anak perempuan lebih mudah merasa tidak nyaman, misalnya ketika sedang sakit atau ketika popoknya kotor. Ketika sudah lebih besar, dia lebih tertarik untuk menyayangi adiknya.

• Anak perempuan lebih mudah mengingat. Bagian otak yang menjadi pusat pengatur memori (hippocampus) pada anak perempuan lebih besar daripada milik anak laki-laki. Inilah yang membuat anak perempuan lebih mudah mengingat segala sesuatunya, bahkan sampai pada hal-hal yang detail.