Mewaspadai Kanker Darah Bagian 2

Konsultan hematologi PCC lainnya, Colin Phipps Diong, menambahkan bahwa hingga saat ini belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan perubahan sel darah menjadi sel kanker itu. “Sejumlah penelitian mengaitkan dengan beberapa faktor, seperti lingkungan, pola makan, dan stres,” kata Colin. Kanker darah, tutur Colin, bisa dideteksi secara dini dengan memeriksakan gejala yang timbul. Misalnya, demam berkepanjangan, penurunan berat badan secara drastis, dan munculnya pembengkakan pada getah bening untuk jenis limfoma.

Apabila sudah merasa mengalami gejala ini, segera periksakan ke dokter untuk mendapatkan diagnosis yang tepat. Ia pun menjelaskan bahwa kanker jenis ini tidak lagi mengenal stadium. Kanker ini menyerang sel darah yang beredar di seluruh tubuh, sehingga tidak ada istilah terlambat ditangani. “Tidak ada istilah penanganan terlambat pada kanker darah,” ungkapnya. Pengobatan kanker darah, ujar Colin, bisa dengan transplantasi sumsum tulang belakang atau kerap disebut transplantasi sel punca (stem cell) alogenik. Pasien bisa mendapatkannya dari anggota keluarga, seperti saudara kandung atau orang tua kandung maupun dari orang lain. “Pasien ternyata juga bisa mendapatkan sel punca dari donor yang tidak punya hubungan darah.”

Yang bisa paling cocok pada umumnya dari saudara, adik atau kakak. Jika tidak ada yang cocok, bisa dari orang lain. “Transplantasi sel punca alogenik ini dikenal sebagai perawatan paling efektif untuk mengobati kanker darah. Prosesnya, sel sumsum tulang belakang yang sehat diambil dari donor, lalu ditanamkan pada pasien,” ujarnya. Sedangkan sel punca hematopoetik bisa didapatkan dari stok darah tali pusat yang tersimpan di bank darah tali pusat.

Colin juga menjelaskan, karakter kanker yang terjadi pada orang dewasa dan pada anak-anak berbeda. Kanker darah yang menimpa anak-anak adalah leukemia akut. Sedangkan orang dewasa sering terkena limfoma yang mempengaruhi kelenjar getah bening. “Selain tipe kanker, proses penyembuhan pasien pada usia dini dan dewasa juga berbeda.

Untuk anak-anak, biasanya lebih cepat sembuh dibanding orang dewasa,” katanya. Anak-anak, kata Colin, lebih kuat, sehingga mereka bisa menjalani banyak terapi dan perawatan. “Bagi orang dewasa, proses penyembuhan relatif lebih lama dibanding pasien anakanak, karena kanker darah lebih sering terjadi pada orang dewasa. Semakin tua, risiko terkena kanker darah semakin besar. Usia 60 tahun ke atas semakin besar risiko terkena kanker darah,” ia mengungkapkan.