Bedakan Pola Asuh dan Hindari Bias Gender

Ya, secara kodrati, perempuan dan lelaki memang berbeda, karena masing-masing memiliki hormon seksnya sendiri; hormon estrogen-progesteron pada perempuan dan hormon androgen (testosteron) pada laki-laki. Hormon-hormon ini berfungsi mengatur perkembangan dan menjaga ciri-ciri seks masing-masing.

Selain itu, hormon estrogen juga menumbuhkan koneksi di pusat komunikasi, memproses emosi, dan memengaruhi kemampuan verbal. Sedangkan hormon testosteron akan memengaruhi agresivitas dan kemampuan spasial yang lebih besar. Berdasarkan fungsi otaknya, lelaki dan perempuan juga berbeda. Dr. Roger Sperry, pemenang hadiah Nobel bidang obat-obatan dan ­siologi (1981), menemukan, pada masa 16 dan 26 minggu kehamilan, dua jenis zat kimia dikeluarkan dari corpus callosum (kumpulan serat-serat yang menghubungkan otak kiri dan otak kanan), sehingga membuat otak kanan lebih dominan sejak dalam kandungan.

Namun, hal ini terjadi hanya pada janin laki-laki, sedangkan perempuan tidak mengalaminya, sehingga otak kirinyalah yang lebih dominan. Sekadar mengingatkan, otak kanan berperan dalam bahasa nonverbal, seperti: penekanan dan irama kata, fungsi pengenalan situasi dan kondisi, pengendalian emosi, kesenian dan kreativitas, serta pola pikir holistik.

Sedangkan otak kiri berperan terutama dalam perkembangan bahasa dan bicara, yakni mengatur kemampuan berbicara, pengucapan kata dan kalimat, pengertian pembicaraan orang, mengulang kata dan kalimat disamping kemampuan berhitung, membaca dan menulis. Nah, berdasarkan perbedaan hormon dan fungsi otak ini, tak heran bila dikatakan anak perempuan lebih cepat berbicara, lebih cerewet.

Anak perempuan juga lebih mengembangkan kemampuan motorik halus sehingga cenderung bisa makan sendiri lebih cepat dari lakilaki, selain juga lebih cepat bisa menulis, membaca, dan mengikat sepatu daripada anak laki-laki. Sementara anak laki-laki lebih mengembangkan kemampuan motorik kasar, beraktivitas­ fisik, seperti berlari dan memanjat, serta lebih tertarik dengan mobil-mobilan dan benda bergerak. Anak laki-laki juga lebih agresif secara ­fisik.

IDENTITAS GENDER

Nah, Mama Papa perlu menyadari adanya perbedaan ciri-ciri dan karakter antara anak perempuan dan laki-laki ini, sehingga tidak menyamaratakan pengasuhan antara keduanya. Misalnya, biarkan anak laki-laki lebih banyak bermain dengan aktivitas yang melibatkan motorik kasar, seperti berlari dan menendang.

Meski demikian, perlu diperhatikan bahwa pembedaan pola asuh ini jangan terlalu kaku sehingga berpotensi menghambat perkembangan si anak. Kalau anak perempuan ingin bergerak dengan lebih bebas, misalnya memanjat dan melompat-lompat, tidak perlu dilarang, sepanjang anak memiliki energi yang cukup untuk melakukan aktivitas tersebut.

Beraktivitas seperti itu juga membantu perkembangan dan kesehatan tubuhnya, bukan? Intinya, pembedaan yang diperlukan haruslah yang berkaitan dengan identitas gendernya di masa depan. Nah, pembelajaran identitas gender ini dimulai dari rumah, dari papa dan mamanya. Setiap anak samasama membutuhkan ­ gur papa dan mamanya untuk memahami identitas gender yang akan melekat padanya kelak.

Dari Papa, anak laki-laki belajar bahwa ia kelak akan menjadi pemimpin yang baik dan bertanggung jawab, pelindung dan pemberi rasa aman bagi keluarga. Oleh karena itu, ia belajar untuk menjadi pribadi yang mandiri dan berani. Sementara anak perempuan, melalui sosok Papa, memiliki gambaran mengenai pria baik yang akan ia cari di masa depan untuk menjadi pasangannya. Mama juga memiliki peran yang signi­ kan dalam membentuk karakter anak. Mama yang penuh kasih sayang, selalu siap menjadi tempat anak bercerita, yang mengajari anak berbagai hal, merupakan contoh bagi anak perempuan untuk bertumbuh. Sedangkan bagi anak laki-laki, Mama adalah gambaran perempuan yang akan dicari di masa depan untuk menjadi pasangannya. Dalam hal ini memang dibutuhkan kepekaan orangtua untuk mengembangkan pola asuh yang tepat, sesuai karakter dan sifat gender anak. Terlalu membedakan kedua gender dapat membatasi tumbuh kembang anak.

Sementara terlalu membebaskan anak dalam memahami perbedaan dan identitas gendernya, juga tidak akan membuat anak tumbuh dengan optimal. Masalah selanjutnya yang mungkin timbul adalah penyimpangan identitas diri (gender). “Anak laki-laki harus tetap maskulin meskipun ia juga dapat menunjukkan sikap empati dan kasih sayang, sementara anak perempuan harus tetap feminin meskipun tidak menghilangkan ketegasan dan kemandirian dalam banyak hal,” ujar Rini, ibu dua anak laki-laki.

Rini mengajarkan kepada anaknya permainan ketangkasan seperti layaknya anak laki-laki. Bahkan, ia pun ikut bermain bola, misalnya, dengan kedua buah hatinya itu. Akan tetapi, ia pun mengajari anak laki-lakinya untuk berempati dan menunjukkan kasih sayang. “Saya mengajarkan kepada si Kakak, misalnya, untuk menyayangi adiknya. Ia tidak bersikap kasar kepada adiknya. Demikian pula sebaliknya.

Kepada si adik, meskipun di luar dia boleh berkelahi jika perlu, kepada kakaknya, ia tidak boleh bicara keras, misalnya,” tambah Rini. Hal ini juga berlaku untuk teman perempuannya. “Saya selalu mengajarkan bahwa kepada perempuan tidak boleh bersikap kasar,” tegasnya. Bagaimana dengan menangis? Bolehkah anak laki-laki menangis? Menangis adalah salah satu cara untuk mengekspresikan emosi.

Tetapi, tentu ada cara lain untuk melakukannya. Menurut Aya, ibu seorang anak perempuan berusia 5 tahun, bahkan kepada anak perempuannya, ia mengajarkan harus ada alasan untuk menangis. “Kalau hanya jatuh lalu menangis berlebihan, tidak baik juga bagi anak,” ujarnya. Sementara Sigit, yang memiliki seorang anak lakilaki, mengajarkan bahwa laki-laki harus melindungi perempuan. “Sejak Didit kecil, saya menekankan betul bahwa laki-laki tidak boleh bersikap kasar kepada perempuan, misalnya memukul,” katanya.

Bahkan, menurut Sigit, tak apa jika anak laki-laki menangis. “Tapi jangan sedikit-sedikit menangis,” tambahnya. Menurutnya, lingkungan sekolah sangat membantu identitas gender. Misalnya, bagaimana perilaku yang diharapkan dari anak laki-laki maupun anak perempuan. “Kalau ada anak laki-laki yang cengeng, dia akan belajar dari lingkungannya bahwa anak laki-laki tidak diharapkan berperilaku seperti itu. Anak-anak cenderung lebih mudah menerima masukan dari teman-temannya.” Tentu, pada akhirnya yang paling tepat adalah menempatkan identitas gender dalam porsi yang pas. Dewasa ini bukan masanya lagi bersikap bias gender.

Perempuan hanya boleh diam di rumah dan mengurus keluarga, misalnya. Pada kenyataannya, masingmasing gender memiliki kelebihan dan kekurangan yang bisa diperkuat atau diperlemah sesuai dengan pengasuhan dan lingkungannya. Perempuan yang bekerja di ladang minyak yang dulu dianggap wilayah kaum laki-laki sudah amat banyak. Demikian pula koki andal di hotel-hotel terkenal juru masak, yang kerap dianggap wilayah kaum perempuan amat banyak yang berjenis kelamin laki-laki. Identitas gender tetap harus ditegakkan tanpa menjadi bias gender, ya Mama Papa.