Anak Panah di Benteng Vastenburg Bagian 2

Jadilah ini karya kolosal pertama saya seumur hidup,” kata seniman Indonesia yang sudah 20 tahun menetap di Jerman itu sambil tertawa. Dalam karyakolosal pembuka SIPA 2018 itu, Melati menggabungkan sejumlah elemen seni dari berbagai daerah di Indonesia, di antaranya iringan musik ganrang Makassar dan performance art jemparingan (panahan tradisional Jawa). Hanya, pada lima menit pertama, Melati menyisipkan performance art yang digubah dari salah satu karyanya berjudul Transaction of Hollows.

Dalam karya asli Transaction of Hollows, Melati memanah di ruangan putih selama empat hari dengan total 800 anak panah. Karya itu pernah dipentaskan di beberapa tempat, di antaranya di ShanghART, Singapura, Januari lalu. Ia tidak menampilkan karya performance art secara utuh di SIPA 2018 karena menyesuaikan dengan karakter penonton yang sangat beragam.“Coba kalau saya tampil dengan menggerus arang selama 12 jam, pasti penonton pada lari,” ujar Melati sambil terbahak. Menggerus arang selama 12 jam itu adalah salah satu karya Melati yang berjudul I’m a Ghost in My Own House.

Karya tersebut mendapat penghargaan Signature Art Prize 2014 dari Singapore Art Museum. SIPA ke-10 ini bertema “We Are The World – We Are The Nations” dan diadakan di Beteng Vastenburg pada 6-8 September 2018. Kegiatan ini melibatkan seniman pertunjukan lintas benua, dari Asia, Australia, Eropa, Afrika, dan Amerika. Tak hanya pembukaan, Melati pun tampil pada malam penutupan, Sabtu, 8 September 2018. Ia menampilkan satu karya kolosal lain berjudul Sakhsat.

Karya yang melibatkan, antara lain, Sanggar Semarak Candrakirana, Studio Plesungan Solo, siswa SMKN 8 Solo, dan mahasiswa ISI Surakarta itu menampilkan hasil pemaknaan ulang kisah Ramayana dari sudut pandang yang berbeda. “Ramayana selama ini dikenal sebagai kisah cinta, Shinta sebagai sosok perempuan ideal Jawa (meski ceritanya dari India). Ini menarik kalau kita lihat Rama dan Shinta dari prespektif gender atau filsafat ketubuhan.

Filsafat ketika keseimbangan mind and soul mengalahkan ego yang dilambangkan dari sosok Rahwana,” kata Melati. Berbeda dengan pertunjukan sendratari Ramayana pada umumnya, karya Sakhsat yang dikoreograferi Melati tidak akan menampilkan karakter Rama yang rupawan dan Shinta yang cantik lemah gemulai. Sebab, dari kacamatanya, Rama, Shinta, Laksmana, Hanoman, Rahwana, dan tokoh-tokoh lain dalam Ramayana hanyalah simbol dari berbagai sifat manusia. Meski karya Sakhsat terkesan berat oleh muatanmuatan filsafat, Melati tetap mengedepankan fungsi seni sebagai hiburan bagi penonton SIPA 2018. “Jadi, karya Sakhsat tetap disesuaikan dengan selera awam.”