Anak Panah di Benteng Vastenburg Bagian 1

Sebait puisi yang dilagukan seorang perempuan dengan sendu mendayu itu mengiring munculnya Melati Suryodarmo yang berkostum serba merah. Tangan kirinya menggenggam busur kayu. Di pinggang kanannya tergantung quiver berisi sejumlah anak panah. Dari belakang panggung seluas 16 x 20 meter itu, Melati pelan melangkah. Sesampai di ujung, ia mulai menggeliat lemah. Busurnya diayun ke segala arah. Nyanyi sepi berhenti. Nuansa hening lekas berganti dengan irama rancak dari alat musik perkusi yang dimainkan Bransai Wind Ensemble yang terdiri atas 36 mahasiswa etnomusikologi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Namun Melati seperti tak terbawa suasana. Diapit sekelompok penari dari Sanggar Semarak Candrakirana Solo yang membentuk formasi persegi di dua sisi, seniman performance art asal Kota Solo yang nama dan karyanya sudah mendunia itu justru tampak asyik sendiri. Sesekali ia meliukkan tubuh, jongkok, memutar tubuh, lalu mencabut satu anak panah. Membelakangi ribuan penonton, Melati kemudian menarik tali busurnya kuat-kuat dan melesatlah anak panah pertama mengenai tembok fasad Beteng Vastenburg.

Setelah habis tiga anak panah dengan sasaran yang sama, Melati turun dari panggung. Seketika itu pula para penari berkostum abu-abu dan biru yang tadinya hanya berdiri mematung langsung berlarian ke segala penjuru, berjingkrak, berbaring, berlompatan, sambil berganti-ganti konfigurasi. Tak terasa 20 menit berlalu. Penari itu pun turun satu per satu. Saat musik pengiring berhenti dan panggung kembali terang, penonton yang mayoritas awam ihwal seni pertunjukan kontemporer baru menyadari penampilan karya pembuka Solo International Performing Art (SIPA) 2018 di Beteng Vastenburg, Kota Solo, pada Kamis malam, 8 September 2018, itu telah usai.

Meski turut dalam riuh tepuk tangan penonton, sebagian wartawan yang baru sekali itu menyaksikan pertunjukan Melati Suryodarmo tidak dapat menyembunyikan ekspresi kebingungan. “Ini masih mendingan. Dua tahun lalu, di Yogya, pentasnya cuma bilang I’m sorry sampai berjam-jam,” kata salah satu wartawan dari media online nasional. Ditemui Tempo seusai pertunjukan, Melati mengatakan, setelah mendapat kepercayaan menjadi maskot SIPA 2018, sejak Juli lalu dia berpikir keras bagaimana caranya menciptakan karya pertunjukan yang mudah diterima publik secara luas. “Saya yang biasa performance art di ruangruang museum atau di galeri seni tiba-tiba dikasih panggung sebesar ini.

artikel selanjutnya https://eatrightbroward.org/anak-panah-di-benteng-vastenburg-bagian-2/